Ternyata, Sebesar Ini Peluang RI untuk Membangkitkan Produksi Minyak Bumi
JAKARTA- Di saat konsumsi minyak nasional telah menembus lebih dari 1,5 juta barel per hari, produksi domestik justru tertahan di kisaran 600 ribu barel per hari.
Ketimpangan ini membuat Indonesia terus bergantung pada impor crude oil dan BBM, yang menjadi beban serius bagi APBN dan ketahanan energi nasional.
Namun sesungguhnya, Indonesia dinilai masih memiliki potensi minyak bumi yang begitu besar. Karena diyakini para ahli perminyakan dunia, sesungguhnya sumur minyak tua masih memiliki potensi yang besar. Hal itu disebabkan lapangan minyak yang sudah berproduksi puluhan tahun baru mengeluarkan sekitar 10 hingga 35 persen cadangan awalnya. Artinya, mayoritas minyak masih tertinggal di bawah tanah.
Lalu bagaimana mengambil sisa minyak bumi yang masih begitu banyak?
Dilansir dari ruangenergi.com, sda jalanyang dinilai lebih cepat, realistis dan ekonomis: hal itu yang disebut dengan Enhanced Oil Recovery (EOR) menggunakan karbon dioksida atau CO?-EOR.
Teknologi ini ibarat membuka kembali “brankas” minyak yang selama puluhan tahun terkunci di dalam reservoir. Dalam konsep Original Oil in Place (OOIP), ternyata
Melalui injeksi karbon dioksida ke reservoir, minyak yang semula melekat di batuan bisa kembali bergerak. CO? membuat minyak mengembang (oil swelling), menurunkan viskositas, mengurangi tegangan permukaan, hingga dalam kondisi tertentu bisa bercampur hampir sempurna dengan minyak (miscible flooding). Kombinasi inilah yang membuat teknologi ini menjadi salah satu metode paling efektif dalam meningkatkan produksi.
Amerika Serikat sudah membuktikannya. Sejak 1970-an, proyek CO?-EOR di Permian Basin sukses menghidupkan kembali lapangan-lapangan tua dan kini menyumbang sekitar 300 ribu barel minyak per hari. Langkah serupa juga dilakukan Kanada dan China.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sebenarnya bukan pemain baru. Beberapa proyek percontohan sudah berjalan di Jatibarang, Sukowati, dan Gundih. Bahkan sejumlah lapangan seperti Ramba, Betung, hingga Subang mulai dipetakan sebagai kandidat pengembangan.
Sayangnya, langkah Indonesia dinilai masih “gigi satu”. Padahal potensinya sangat besar.
Lapangan Minas, misalnya, memiliki OOIP historis sekitar 8–9 miliar barel. Jika CO?-EOR mampu menambah recovery hanya 10 persen saja, tambahan produksi bisa mencapai 800–900 juta barel—setara beberapa penemuan lapangan raksasa sekaligus.
Dari sisi keekonomian, biaya tambahan produksi lewat CO?-EOR diperkirakan berada di kisaran US$25–55 per barel. Angka ini masih jauh lebih murah dibanding risiko eksplorasi frontier atau laut dalam yang bisa menghabiskan miliaran dolar tanpa jaminan hasil.
Menariknya, CO? yang selama ini dianggap limbah dan sumber emisi justru bisa berubah menjadi aset strategis. Gas karbon dari LNG plant, kilang, pabrik pupuk, hingga petrokimia dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi sekaligus disimpan permanen di bawah tanah.
Artinya, Indonesia punya kombinasi langka: sumber CO? melimpah, banyak lapangan tua, infrastruktur migas yang sudah tersedia, serta regulasi CCS yang mulai terbentuk.
“Risiko terbesar bukan pada teknologinya, tetapi jika kita tidak melakukan apa-apa,” tulis Haposan Napitupulu, mantan Deputi Perencanaan BPMigas dalam kajiannya kepada ruangenergi.com
Dengan penurunan produksi minyak yang terus berjalan, CO?-EOR bisa menjadi quick win paling logis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. *