Perkuat Pasokan Dalam Negeri, Pertamina Bawa Pulang 2,5 Juta Barel Minyak dari Luar Negeri
JAKARTA- PT Pertamina (Persero) dikabarkan akan membawa pulang minyak mentah dari asetnya yang berada di luar negeri, masuk ke Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pasokan minyak bagi kebutuhan kilang dalam negeri.
Seperti dituturkan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto, setidaknya ada sekitar 2,5 juta barel minyak hasil produksi di luar negeri yang dibawa pulang ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,7 juta barel telah masuk ke dalam negeri.
“Yang sudah masuk ke kita 1,7 juta barel. Ini juga kita bisa perhitungkan untuk memperkuat ketahanan kilang kita," ungkap Djoko, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, baru-baru ini.
Dilansir dari cnbcindonesia, Pertamina memiliki sejumlah lapangan migas di luar negeri melalui PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Seperti di Aljazair, Iraq, Angola, Malaysia, Gabon, Tanzania, hingga Venezuela.
Di Aljazair, Pertamina memiliki sejumlah aset hulu migas sejak 2012. Di mana ada sebanyak 65 persen hak partisipasi (Participating Interest/ PI) di Lapangan Menzel Lejmet North (MLN), Blok 405a. Selain itu, Pertamina juga memiliki Pi sebesar 16,9 pereen pada EMK Unitization.
Di Iraq, Pertamina memiliki 20% hak partisipasi di Blok West Qurna-1 sejak 2013, tapi non-operator.
Di Angola, Pertamina memegang 20 persen hak partisipasi di Blok 3/05 (produksi) dan 3/05A. Sementara di Tanzania, Pertamina memiliki hak partisipasi 48,06 persen (produksi dan operator) pada proyek Mkuranga dan juga 60 pereen pada Mnazl Bay (eksplorasi, dan operator).
Pada 31 Januari 2026 lalu, Pertamina telah membawa pulang sebanyak 1 juta barel minyak mentah dari asetnya di luar negeri ke Indonesia.
Langkah strategis yang mengusung semangat "Bring Barrels Home" ini merupakan hasil produksi pertama di bawah perpanjangan Production Sharing Contract (PSC) Blok 405A, di Aljazair.
Perpanjangan kontrak ini sekaligus memberikan kepastian hukum bagi kelangsungan operasional Pertamina di Aljazair, Afrika Utara, untuk jangka waktu 25 tahun ke depan.
Pengapalan perdana 1 juta barel minyak mentah menjadi tonggak sejarah dan wujud nyata Pertamina dalam mendukung melayani kebutuhan energi Indonesia," ujar keterangan Pertamina dalam akun Instagramnya, Sabtu (31/1/2026).
Sementara itu, terkait produksi migas nasional, Djoko mengatakan pihaknya mencatat, realisasi produksi minyak, kondensat, dan natural gas liquid (NGL) nasional hingga 31 Juli 2026 mencapai 578.156 barel per hari (bph).
Angka tersebut baru mencapai 94,8 persen dari target produksi terangkut (lifting) minyak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 610.000 bph.
Realisasi produksi pada 2026 ini juga terpantau turun bila dibandingkan dengan realisasi produksi minyak pada 2025. Pada 2025, produksi minyak nasional rata-rata mencapai 606,1 ribu bph. *