Terungkap, Sumur Minyak tak Aktif Bisa Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak
JAKARTA- Sebagai salah satu negara penghasil minyak bumi dan gas, Indonesia memiliki ribuan sumur minyak dan gas bumi (migas) yang kondisinya tidak aktif. Hasil penelitian menunjukkan, sumur migas yang sudah tidak aktif mampu mengeluarkan gas metana 1.000 kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Peneliti dari Universitas McGill di Kanada mengungkapkan, gas metana dari sumur yang sudah tidak beroperasi, ternyata bukan cuma sisa gas alam biasa, tapi dihasilkan mikroba yang hidup di dalam sumur tersebut.
Dilansir dari kompas yang mengutip Down to Earth, metana mikroba adalah gas metana yang dihasilkan oleh makhluk hidup sangat kecil bernama methanogen.
Gas ini muncul saat bahan organik membusuk di tempat yang tidak ada oksigennya. Proses ini terjadi secara alami di rawa-rawa, sawah, tempat pembuangan sampah, hingga di dalam sistem pencernaan hewan ternak seperti sapi.
Untuk diketahui, metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat saat terlepas ke atmosfer.
Dilansir dari Wikipedia, Indonesia memiliki sekitar 16.990 sumur migas tidak aktif (idle well) dari total 44.985 sumur yang tersebar di berbagai wilayah
Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.495 - 4.500 sumur teridentifikasi memiliki potensi hidrokarbon (HC) dan menjadi target reaktivasi oleh pemerintah bersama Pertamina untuk meningkatkan produksi migas nasional hingga tahun 2028.
Seperti diungkapkan Mary Kang, profesor teknik sipil dan salah satu penulis studi tersebut, sumur minyak dan gas yang sudah tidak aktif bisa terus mengeluarkan metana mikroba, bahkan jauh setelah cadangan minyak atau gas di dalamnya sudah benar-benar habis.
Penelitian ini berdasarkan sampel yang diambil dari 401 sumur yang tidak beroperasi di seluruh Kanada, terutama di wilayah Kanada Barat yang memiliki lebih dari 90 persen sumur jenis tersebut.
Metana panas bumi, sejauh ini tetap menjadi tanda utama sumur dengan emisi tinggi. Hal itu mengingat jumlahnya bisa 500 kali lebih besar dibanding metana mikroba. Namu. temuan tentang besarnya jumlah emisi yang dihasilkan mikroba tersebut, membuat upaya perbaikan menjadi lebih rumit.
Kang juga mencatat bahwa bawah tanah adalah sistem yang rumit dengan banyak lapisan gas, sehingga sulit untuk menentukan dengan tepat dari mana asal metana tersebut.
Namun demikian, temuan ini dapat membantu memperbaiki cara pemeriksaan kondisi sumur serta membantu merancang strategi perbaikan yang lebih efektif.
Studi ini menggunakan metode kimia untuk membedakan asal-usul metana, memberikan wawasan baru tentang bagaimana emisi bergerak di bawah tanah dan bocor melalui infrastruktur sumur.
Para peneliti mengatakan bahwa memahami sifat dan jalur kebocoran emisi ini sangatlah penting, terutama saat negara-negara sedang berjuang keras mengurangi metana, gas rumah kaca berbahaya yang memicu perubahan iklim.