Sepanjang Kuartal I/2026, Sektor Migas Jadi Sasaran Empuk Serangan Siber
JAKARTA- Sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia, tercatat paling banyak menerima ancaman siber. Khususnya yang berkaitan dengan sistem kontrol industri (industrial control systems/ICS). Kondisi ininterjadi sepanjang kuartal I/2026.
Berdasarkan data Kaspersky ICS CERT, sebanyak 28 persen komputer ICS di sektor migas di Tanah Air mendeteksi serta memblokir objek berbahaya selama Januari-Maret 2026. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan sektor industri lainnya.
Dilansir dari bisnis.com, sektor migas ternyata tidak satu-satunya yang menjadi sasaran serangan siber. Hal yang sama juga menimpa beberapa sektor lainnya.
Di antaranya sektor tenaga listrik dan otomasi gedung dengan persentase 24,persen, teknik dan integrasi ICS 21,2 persen, konstruksi 20,5 persen, manufaktur 19,4 persen serta biometrik sebanyak 19,3 persen.
Secara keseluruhan, sebanyak 21,81% komputer ICS di Indonesia tercatat memblokir objek berbahaya pada kuartal I/2026.
Menyikapi hal itu, Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, menilai tingginya tingkat serangan pada sektor-sektor energi, mencerminkan besarnya daya tarik infrastruktur kritis sebagai target pelaku kejahatan siber.
Selain memiliki nilai strategis, gangguan terhadap operasional sektor tersebut berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas.
Menurutnya, transformasi digital yang semakin massif di sektor industri turut memperluas permukaan serangan siber terhadap lingkungan operasional perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan perlu mengedepankan strategi keamanan siber yang komprehensif. Mulai dari pemantauan berkelanjutan, pemanfaatan intelijen ancaman, peningkatan kesadaran karyawan, hingga perlindungan khusus terhadap sistem ICS dan teknologi operasional (operational technology/OT).
Sistem Lama
Sementara itu, Kepala Kaspersky ICS CERT Evgeny Goncharov mengatakan, hingga saat ini masih banyak perusahaan industri di Tanah Air yang mengoperasikan sistem OT berusia lama, sehingga rentan dieksploitasi pelaku kejahatan siber.
Menurutnya, kompleksitas rantai pasok dan semakin luasnya koneksi dengan jaringan mitra juga memperbesar permukaan serangan.
“Penyerang menyadari bahwa menargetkan aset OT dari perusahaan industri bukanlah hal yang sulit, itulah sebabnya penutupan pabrik menyebabkan kerugian finansial yang besar,” sebut Goncharov
Untuk mengurangi risiko serangan siber, Kaspersky merekomendasikan perusahaan industri melakukan audit keamanan sistem OT secara berkala.
Selanjutnya, membangun penilaian kerentanan dan triase berkelanjutan sebagai dasar untuk proses manajemen kerentanan yang efektif.
Goncharov juga menyarankan agar perusahaan industri mempercepat pembaruan dan pemasangan patch keamanan. Lalu, terapkan solusi deteksi dan respons ancaman (EDR), meningkatkan kompetensi personel keamanan siber, serta memperkuat pemanfaatan intelijen ancaman guna mengantisipasi pola serangan yang terus berkembang. *