Gencar Tawarkan Blok Migas, Investor Harapkan Pemerintah Perkuat Data
JAKARTA- Pemerintah RI saat ini terus gencar dalam menawarkan blok minyak dan gas bumi (migas) di Tanah Air.
Terkait hal itu, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal, mendorong pemerintah untuk memperkuat daya tarik investasi dengan menambah data lapangan migas yang ditawarkan kepada investor.
Hal itu dinilai penting, mengingat prospek penawaran blok minyak dan gas bumi (migas) Indonesia akan menghadapi persaingan yang kian ketat di tengah ketidakpastian konflik global.
"[Menawarkan Blok kita] iya sah-sah saja, bukan berarti industri Migas itu akan mati. Masih banyak ada peminat. Cuma persaingan akan makin ketat," kata Moshe, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
"Bagaimana kita mempersiapkan penawaran blok ini, sehingga si investor itu akan lebih tertarik? Cara mempersiapkannya adalah dengan menambah data. Makin banyak data kalau kita di penawaran blok migas, makin banyak data makin mengurangi risiko. Jadi makin lebih pasti," jelasnya.
Sejauh ini, pengumpulan data seperti survei seismik masih bergantung kepada pihak ketiga. Karena itu, pemerintah juga dinilai perlu aktif berinvestasi untuk mengumpulkan serta memperkaya data tersebut.
Pihaknya juga menyarankan Indonesia melakukan studi banding dengan negara-negara lain yang dinilai berhasil dalam menarik minat investasi migas seperti Malaysia dan Vietnam.
"Kalau kita lihat, Malaysia lebih sukses dari Indonesia. Vietnam juga, walaupun cadangannya sangat-sangat kecil dibandingkan dengan Indonesia. Mereka juga cukup sukses untuk menarik investasi. Indonesia harus bisa melihat itu di satu sisi," ujarnya lagi.
Sebagai catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menawarkan 10 blok migas potensial pada awal tahun ini. Blok-blok migas tersebut baru saja selesai melalui tahap studi mendalam.
Seperti dituturkan Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, 10 blok migas potensial tersebut merupakan bagian dari 110 area potensi yang telah dipetakan oleh Kementerian ESDM dan telah selesai dilakukan studi oleh Badan Geologi dan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Kementerian ESDM turut berkomitmen menciptakan iklim investasi hulu migas yang atraktif melalui berbagai kebijakan fiskal baru.
Antara lain, skema bagi hasil atau split sebesar 50:50, kontrak migas yang fleksibel yakni dapat memiliki cost recovery atau gross split, serta adanya insentif hulu migas untuk optimalisasi produksi dan pembebasan indirect tax pada masa eksplorasi. *